
Hello, bertemu kembali, pada kali ini akan membahas mengenai perawatan luka ulkus Madu sebagai Balutan Luka Ulkus Diabetikum - Alomedika simak selengkapnya
Madu menjadi cacat satu pilihan bingkisan berkelukur (wound dressing) pada pengobatan dan pembelaan ulkus diabetikum ataupun berkelukur suku diabetes karena berbagai sifat yang dimilikinya seperti efek antibakteri, antiinflamasi, antioksidan dan debridemen autolitik.
Salah satu kepelikan dari diabetes mellitus adalah masalah ala kaki, yaitu ulserasi, kontaminasi dan gangren. Ulkus Diabetikum ataupun berkelukur suku diabetes (diabetic foot ulcer) melahirkan penyebab amat banyak dari rawat bermalam ala pasien diabetes. Prinsip pengobatan dari ulkus diabetikum adalah debridemen, penurunan beban dan kontrol infeksi. Salah satu bagian dari cara debridemen adalah dengan melakukan pembelaan berkelukur dengan wound dressing ataupun bingkisan luka[1].

Angka memotong yang tak terkait dengan trauma ala diabetes adalah 50 – 70% dan amat banyak disebabkan karena ulkus diabetikum. Pengobatan dan pembelaan ulkus diabetikum, edukasi kepada pasien dan keluarganya bersama kontrol yang komprehensif diharapkan bisa menurunkan biji memotong ini[2].
Beberapa contoh regimen topikal yang digunakan sebagai bingkisan berkelukur adalah wet-to-dry dressing (menggunakan kassa dan enceran alih galib bersih), antibiotik topikal (contoh: gel metronidazol), bingkisan tulle, lembaran poliuretan, bingkisan hidrogel, bingkisan hidrokoloid, bingkisan alginat, bingkisan yang dalam tian madu, enzim topikal dan peralatan mekanik[3].
Madu dipertimbangkan sebagai pembalut berkelukur primer (primary wound dressing) pada[4]:
- Luka nekrotik yang kering untuk melepaskan jaringan non-viabel, dan
- Luka yang memiliki slough, berwarna kuning kecoklatan engat hitam dan memiliki eksudat yang hina engat kering
Rekomendasi ini harus disesuaikan kembali dengan dekrit klinis dan protokol lokal yang berlaku.
Fitur yang terdapat pada madu yang terkait dengan pemulihan ulkus diabetikum jarak lain[5]:
- Keasaman (pH 3.2 – 4.5) bisa mencegah terbentuknya lembaran biofilm dan bersamaan dengan kandungan gula bisa mengakomodasi makrofag untuk melenyapkan kuman. Selain itu, keasaman madu bisa mengadakan hal area yang meningkatkan pelepasan O dari hemoglobin yang akan memberahikan pemulihan berkelukur melalui cara granulasi bersama bisa menurunkan aktivitas protease untuk kenaikan aktivitas fibroblas
- Efek osmotik. Madu bersifat hiperosmolar yang mengadakan area yang tak konduktif untuk bakteri bertumbuh. Cairan akan tertarik ke daerah berkelukur dan akan datang bisa membentuk lembaran protektif terhadap kontaminasi silang. Cairan limfa juga bisa tertarik dan memberahikan terjadinya debridemen autolitik. Perlu diperhatikan bila madu sudah tercampur dengan eksudat dari berkelukur maka akan menurunkan efek hiperosmolar ini.
- Hidrogen peroksida (H2O2) pada konsentrasi hina yang dihasilkan dari aktivitas enzim glucose oxidase bisa memberahikan fibroblas, organ epitel, angiogenesis in vivo dan bersama dengan neutrofil bisa melenyapkan bakteri.
- Nitrit oksida (NO) yang banyak dibutuhkan era stadium proliferatif era pemulihan luka. Selain NO, produk akhir dari NO juga berpotensi untuk mengakomodasi pemulihan luka.
Aktivitas Antibakteri
Aktivitas antibakteri memiliki spektrum yang luas terhadap bakteri gram positif, gram negatif, aerob dan anaerob, lamun kurang berhasil terhadap jamur. Beberapa ahli juga mengatakan madu berhasil terhadap bakteri yang memiliki resistensi terhadap antibiotik seperti jarak lain MRSA (Methycillin-resistant Staphylococcus aureus), VRE (Vancomycin-resistant Enterococci), pseudomonas, Acinetobacter baumanii dan Stenotrophomonas maltophilia. Pada pemberian madu konsentrasi adiluhung yang bertemu dengan pemakaian klinis, maka resistensi bakteri terhadap efek antibakteri dari madu bisa dihindari[6].
Aktivitas Penghambat Biofilm
Biofilm banyak terdapat ala berkelukur yang kronis dan mengusutkan pemulihan luka. Zat aktif madu bisa menembus matriks biofilm yang telah terbentuk. Selain itu, madu bisa melenyapkan bakteri-bakteri yang berpotensi membentuk biofilm[6,7].
Aktivitas Debridemen
Pada kontaminasi kronis, terdapat kenaikan protease yang akan menurunkan kadar faktor-faktor pertumbuhan dan komponen matriks ekstraselular yang menghambat cara pemulihan luka. Protease membutuhkan hal basa untuk bekerja optimal. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, karena sifat pH yang rendah, madu bisa menurunkan aktivitas dari protease. Efek osmotik madu juga bisa hebat enceran limfa ke daerah yang terluka dan membuatnya menjadi lembap, sehingga bisa memberahikan terjadinya debridemen autolitik[5,6].
Efek Anti-inflamasi dan Antioksidan
Efek anti-inflamasi ala madu kemungkinan disebabkan akibat inaktivasi reactive oxygen species (ROS) dan gula yang terdapat pada madu memberikan makrofag bahan memanaskan untuk membikin H2O2 bersama energi. Plant phenolics pada madu juga memiliki efek antioksidan yang bisa melepaskan pelampau bebas. Proses-proses ini bisa memotong siklus inflamasi kronik[5,6].
Pemilihan Madu untuk Ulkus Diabetikum
Pemilihan macam madu yang berhasil untuk ulkus diabetikum menjadi tantangan tersendiri karena perbedaan dari aransemen sendiri-sendiri madu. Terdapat produk komersil bingkisan berkelukur yang dalam tian madu, lamun efeknya mungkin bisa berbeda-beda dari setiap produsen[6]. Jenis madu yang telah terbukti bisa memberikan keuntungan ala ulkus diabetikum, jarak lain:
- Madu Manuka adalah madu monofloral murni dari lebah ala tanaman manuka (Leptospermum scoparium) yang banyak terdapat di Australia dan Selandia Baru. Dalam suatu investigasi (n=63) yang membandingkan bingkisan berkelukur dengan madu manuka dibandingkan dengan bingkisan konvensional (kassa berair dengan alih normal), ditemukan waktu penyembuhannya lebih banter ala faksi madu (31 ± 4 hari vs 43 ± 3 hari, p < 0.05)[8]. Penggunaan madu manuka dan metode konvensional ditemukan menurunkan biji memotong ibu jari suku (akibat komplikasi) dibandingkan dengan metode konvensional saja (9.7% vs 34.6%; p < 0.05)[9].
- Dalam sebuah investigasi di Malaysia, diteliti madu tak antiseptik yang dijual secara komersil untuk konsumsi dibandingkan dengan povidon iodin dan alih galib (kontrol) ala berkelukur suku diabetes Wagener-II. Ditemukan waktu pemulihan ala faksi madu adalah 14.4 hari (7 – 26 hari) dan faksi kontrol adalah 15.4 hari (9 – 36 hari). Perbedaan ini ditemukan tak bena secara statistik, lamun ala faksi madu ditemukan keuntungan lain yaitu penurunan edema dan bacin ala luka[10].
- Salah satu sediaan bingkisan berkelukur yang dalam tian madu yang dijual di Indonesia adalah Medihoney (merek dagang). Belum siap standar eksploitasi madu sebagai bingkisan berkelukur ulkus diabetikum di Indonesia. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.
Frekuensi penggantian bingkisan berkelukur dengan madu adalah sehari banget ala 9 dari 11 investigasi yang menyatakan kesuksesan adat bak ulkus diabetikum. Penggantian bingkisan bisa dilakukan lebih ada kalanya bila terdapat banyak eksudat dan bisa dilakukan lebih jarang bila jumlah drainase berkurang (4 – 7 hari sekali). Pada berkelukur yang keras, bisa dilakukan dengan kedap madu yang dicairkan dengan alih galib dengan perbandingan 1:3[5].
Kesimpulan
- Ulkus diabetikum melahirkan kepelikan dari diabetes mellitus yang amat ada kalanya membuat rawat bermalam dan bisa berujung ala amputasi
- Madu melahirkan cacat satu bingkisan berkelukur (wound dressing) ala pengobatan dan pembelaan ulkus diabetikum
- Fitur yang dimiliki akibat madu sebagai bingkisan berkelukur ala ulkus diabetikum adalah: pH yang rendah, bersifat hiperosmotik, dalam tian H2O2 (hidrogen oksida) dan NO (nitrit oksida).
- Fitur tersebut bisa membuat madu memiliki efek anti-bakteri, penghambat biofilm, debridemen autolitik, anti-inflamasi, anti-oksidan dan memangkas bacin dari luka.
- Pemilihan macam madu melahirkan sebuah tantangan klinisi karena kandungan madu berbeda-beda.
- Madu manuka ditemukan bisa menurunkan waktu pemulihan dan memangkas kepelikan yang berujung ala amputasi
- Balutan berkelukur dengan madu yang tak antiseptik dan dijual secara komersil untuk konsumsi ditemukan tak memiliki perbedaan waktu pemulihan dengan bingkisan berkelukur dengan povidon iodin, lamun bisa memangkas edema dan bacin ala luka
- Salah satu sediaan bingkisan berkelukur yang dalam tian madu yang dijual di Indonesia adalah Medihoney (merek dagang). Belum siap standar eksploitasi madu sebagai bingkisan berkelukur ulkus diabetikum di Indonesia.
- Frekuensi penggantian bingkisan berkelukur ala investigasi bingkisan berkelukur dengan madu yang dilaporkan sukses rata-rata adalah sehari sekali. Penggantian bingkisan bisa dilakukan lebih ada kalanya bila terdapat banyak eksudat dan bisa dilakukan lebih jarang bila jumlah drainase berkurang.
- Diperlukan investigasi melanggar jenis-jenis madu yang siap di Indonesia, misal madu lengkeng, untuk menemukan macam madu yang memiliki manfaat yang sama seperti madu manuka
begitulah detil mengenai Madu sebagai Balutan Luka Ulkus Diabetikum - Alomedika semoga tulisan ini bermanfaat terima kasih